Berwawasan luas tentang Indonesia

Anda bisa mencari semua tempat rekomendasi wisata yang ada di Indonesia...

Kurs Dollar

Kurs Dollar menurun akibat SDA yang sangat rendah. Disiplin lah yang paling tepat untuk membasmi!

Out Visitor

Visitor mancanegara yang terus meningkat setiap tahunnya. Dan Indonesia semakin banyak dikenal.

Renew your life !

Perbaharuilah hidup anda sebelum anda diperbaharui. Disiplinlah dalam bertindak !

We Are

Kami sangatlah disiplin dalam bertindak. Anda disiplin ? Indonesia akan maju !

Tampilkan postingan dengan label alambwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alambwi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Agrowisata Kalibendo

Siapa yang tak kenal Kawah Ijen, kawah eksotis yang konon terindah kedua di dunia setelah Alaska. Siapa juga yang tak kenal Pantai Plengkung, surganya para peselancar dunia. Dua tempat wisata tersebut terletak di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi.

Namun tak banyak orang tau, tempat wisata di Banyuwangi bukan cuma Pantai Plengkung dan kawah Ijen saja, masih banyak tempat-tempat wisata lain di Banyuwangi, seperti Pulau Merah misalnya. Pulau merah baru-baru ini menjadi terkenal lantaran menjadi lokasi kompetisi surfing dunia.

Yang terbaru, segera akan dilaunching di Banyuwangi agro wisata yang terletak di areal PT Perkebunan Kalibendo, Glagah, Banyuwangi. Tak cuma disuguhi oleh keindahan perkebunan karet, kopi dan cengkeh nan asri. Anda juga bisa menyeruput kopi Robusta kualitas nomor satu di Indonesia. Bahkan, Anda bisa minum kopi luwak ditemani sang luwak yang 'memproduksi' kopi yang sedang Anda minum.

"Para wisatawan juga akan dikenalkan bagaimana bikin kopi, bagaimana cara menderes (menyadap) karet," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Perkebunan Kalibendo, Banyuwangi, Minggu (15/12).

Anas memaparkan, sudah saatnya warga Banyuwangi dan wisatawan luar kota bahkan mancanegara tak cuma disuguhi Kawah Ijen dan Pantai Plengkung. Kawasan agro wisata Perkebunan Kalibendo ini juga bisa menjadi tambahan bagi wisatawan yang ke Ijen, karena terletak tak jauh dari Kawah Ijen.

"Orang dari Ijen bau belerang, makanya mereka bisa mandi di sini," umbuh Anas.

Seperti diketahui, di lokasi Agro Wisata Kalibendo ini terdapat sungai yang jernih dengan arus yang cukup deras. Nantinya di tempat ini akan dibangun tempat-tempat mandi bagi para wisatawan yang habis turun dari Ijen.

Agro wisata perkebunan Kalibendo ini memiliki tiga pos yang akan dilalui. Pos pertama, wisatawan akan menuju 'Pondok Robusta' dengan menggunakan sepeda gunung. Jalan yang menanjak dan berkelok-kelok cukup memacu adrenalin Anda. Apalagi Anda juga akan melewati jalan tak beraspal yang licin di musim hujan seperti saat ini.

Namun rasa lelah akan terbayarkan saat Anda tiba di pos pertama, Pondok Robusta. Anda akan disambut oleh sebuah pos yang berupa rumah adat Osing Banyuwangi, dan disuguhi kopi robusta kualitas nomor satu di Indonesia. Berbagai kudapan seperti kue cucur, singkong goreng dan pisang goreng bisa Anda nikmati, langsung dibikin oleh warga sekitar.

"Di sini kopi Robusta kualitasnya nomor satu se Indonesia. Ada juga kopi Arabica, tapi kualitasnya kira-kira nomor lima se Indonesia," ujar Direktur PT Perkebunan Kalibendo, Tjandra Sasmita di sela-sela acara soft launching agro wisata Kalibendo.

Setelah pos pertama, perjalanan naik sepeda dilanjutkan menuju pos dua. Di sana Anda akan menemui Pos Karet. Berbagai macam karet hasil sadapan di perkebunan Kalibendo dipajang. Pos dua ini berbentuk rumah bambu, yang semua dibuat dari bambu serta atap terbuat dari anyaman. Tersedia juga tempat mandi dan kakus alami.

Uniknya, di pos pertama dan kedua, Anda akan disambut dengan 'red carpet', bukan berwarna merah, melainkan kuning. Red carpet berwarna kuning yang dimaksud adalah kulit-kulit kopi yang telah dipisahkan dari biji kopi.

Setelah itu Anda akan menapaki jalan setapak menurun menuju aliran sungai jernih. Anda bisa mandi, atau sekadar minum kopi dan membeli mie rebus di pinggir-pinggir sungai.

Puas menikmati aliran air sungai yang jernih, Anda harus melanjutkan perjalanan melalui jembatan gantung, lanjut naik ke atas tebing. Pos terakhir adalah lapangan Kalibendo yang letaknya dekat dengan kantor serta pabrik PT Perkebunan Kalibendo.

"Selama ini tamu-tamu asing sudah banyak, tapi belum terkoordinasi dengan baik," ungkap Bupati Anas.

Rencananya, grand launching agro wisata Kalibendo ini akan berlangsung Januari tahun depan. "Hari ini sudah saya panggil kepala-kepala dinas terkait untuk segera membahas ini, gak usah menunggu besok," papar Anas.

Untuk memperkenalkan agro wisata ini, lanjut Anas, bisa diawali dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah dasar. Apalagi sebentar lagi musim liburan sekolah. "Kalau ada 30 SD saja yang ke sini, bisa menjadi awal yang baik," kata Anas.

Rencananya, selain dimanjakan dengan pepohonan karet, kopi, dan cengkeh, para pengunjung juga akan dimanjakan dengan kehadiran taman bunga dan taman buah layaknya di Mekarsari, Bogor, Jawa Barat. Studi banding ke luar negeri pun telah dilakukan. Penanaman bibit-bibit bunga juga sudah berlangsung.

Berapa harga paket yang harus dibayar oleh pengunjung untuk menikmati agro wisata ini? "Masih dihitung-hitung," kata pengelola, Tjandra Sasmita.

Agro wisata Kalibendo ditempuh sekitar 30 menit dari kota Banyuwangi ke arah barat, melewati jalur yang menuju Kawah Ijen. Di sepanjang jalan, Anda akan menikmati pemandangan asri persawahan yang indah. Desa Wisata Osing dengan rumah-rumah adat khas Banyuwangi juga bisa dijumpai.

"Pemandangannya nggak kalah dengan di Ubud," tutup Anas.


Gallery





Pantai Watu Dodol

Watu Dodol

Watu Dodol
Watu dodol.jpg
Informasi umum
LokasiBendera Indonesia Kabupaten Banyuwangi,Jawa Timur
Koordinat8°5′30″LU 114°24′55″BT
Kawasan Wisata Pantai Watu Dodol merupakan pintu masuk ke Kabupaten Banyuwangi dari wilayah Kabupaten Situbondo. NamaWatu Dodol sendiri merujuk kepada sebuah batu besar setinggi 6 meter yang berlokasi tepat di antara kedua ruas jalan raya. Lokasi kawasan wisata ini sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Etimologi

Dalam bahasa Jawa, Watu memiliki arti Batu. Istilah Dodol dapat diartikan sebagai jenang. Jenang Dodol dapat merujuk kepada makanan manis berbentuk persegi seukuran kelingking. Dodol juga dapat berupa makanan dari ketan yang ditumbuk, dibentuk lonjong seukuran telapak tangan, kemudian digoreng.

Keunikan wisata Watu Dodol

Watu Dodol

Watu Dodol merupakan batu karang berwarna hitam yang sangat keras serta memiliki bentuk yang unik, yaitu bagian atasnya lebih besar daripada dasarnya. Pada bagian selatan sisinya, tumbuh sebatang pohon kelor yang menambah keunikan batu tersebut. Meskipun dulu terlihat angker, tetapi kini Watu Dodol terlihat asri karena dihiasi taman sebagai jalur hijau.

Patung gandrung

Patung Gandrung (tarian khas Banyuwangi) dengan tulisan Selamat Datang di Kabupaten Banyuwangi menjadi penghias gerbang masuk ke Kabupaten Banyuwangi.

Sumur air tawar

Sumur air tawar berlokasi di area Pantai Watu Dodol. Penduduk setempat membatasinya dengan dinding yang terbuat dari batu. Air tawar yang dikeluarkan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Gua Jepang

Gua Jepang digunakan sebagai benteng pertahanan pada masa Perang Dunia II serta digunakan untuk mengawasi setiap kapal yang melintasi Selat Bali. Gua tersebut menghubungkan pintu gua dari sisi bukit menuju ke pintu gua di puncaknya. Kondisi gua kini kurang terawat dan tertutupi semak-semak sehingga sulit untuk ditemukan, kecuali bagi orang yang sudah mengetahui dengan pasti lokasinya.

Wisata dan peristirahatan tepi pantai

Pantai Watu Dodol dilengkapi tempat peristirahatan sementara bagi pengendara yang melintasi jalur Situbondo-Banyuwangi. Kawasan wisata pantai ini dilengkapi fasilitas parkir yang luas, warung-warung yang menyediakan makanan khas Banyuwangi, toko-toko yang menjual kebutuhan sehari-hari dan telepon seluler, kamar mandi bagi wisatawan yang bermain di pantai, dan persewaan perahu nelayan untuk ke tengah laut. Lokasi pantai cukup rindang karena banyak ditumbuhi pepohonan. Selain dibatasi laut di sebelah timur, lokasi wisata juga langsung berbatasan dengan bukit dan hutan, serta dekat dengan lokasi Watu Dodol.

Makam di puncak bukit

Makam di Watu Dodol pada Tahun 2011
Kuil Tu Di Gong di samping makam
Terdapat sepasang makam pada puncak bukit yang berlokasi tepat di belakang pantai Watu Dodol (sisi barat Watu Dodol). Sepasang makam tersebut dikeramatkan oleh berbagai kalangan, yaitu para penduduk setempat maupun orang-orang dari luar daerah Banyuwangi. Tidak jarang ada beberapa orang yang bertapa di lokasi makam tersebut.
Kondisi makam terawat baik. Sebuah kanopi bergaya China serta lantai bertegel putih menambah kebersihan dan keindahannya. Untuk masuk ke lokasi makam, disediakan tempat parkir luas yang dapat memuat belasan mobil. Jalan masuk menuju makan dibangun dengan batu serta kavling untuk mempermudah perjalanan pengunjung.
Pengunjung dapat menikmati pemandangan laut serta Watu Dodol dari puncak bukit, atau menikmati keasrian hutan yang dipenuhi satwa liar di sisi yang lain.
Ciri khas budaya China kembali ditunjukkan dengan adanya sebuah kuil kecil di sisi makam yang ditujukan kepada Dewa Bumi Tu Di Gongserta dilengkapi wadah untuk menancapkan hio.

Upacara Puter Kayun

Upacara atau Ritual Puter Kayon merupakan sebuah festival penduduk setempat yang biasa dilakukan seusai Lebaran. Upacara tersebut merupakan perwujudan syukur penduduk setempat karena dapat melaksanakan Lebaran serta mengenang jasa Buyut Jakso, sesepuh yang pertama kali membuka Kampung Boyolangu. Upacara dimulai dengan mengarak tumpeng dan sesajian dari Boyolangu ke Pantai Watu Dodol. Sesajian selanjutnya dilarungkan ke laut sementara Tumpeng dimakan bersama-sama.

Hotel dan restoran

Lokasi Watu Dodol berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang sehingga seringkali menjadi tempat peristirahatan bagi para pelancong yang hendak menuju atau dari Pulau Bali. Hotel yang terdapat di Kawasan Wisata Watu Dodol adalah Hotel Watu Dodol. Restoran yang berada di lokasi Kawasan Wisata Watu Dodol adalah Restoran Melaties.

Legenda

Kawasan Wisata Watu Dodol terkenal akan berbagai legenda mistisnya yang turut menarik perhatian wisatawan untuk datang.

Nama Watu Dodol

Pada masa Blambangan diperintah oleh Minak Jinggo, sempat terjadi peperangan antara pasukan Blambangan dengan Majapahit. Pasukan Blambangan mengalami kekalahan sehingga banyak yang melarikan diri menuju pantai di utara.
Seorang prajurit Blambangan membawa bekal berupa jadah (sejenis dodol, yaitu jenang ketan berbentuk lonjong seukuran telapak tangan). Saat beristirahat di tepi pantai, bekal yang ia bawa tertinggal. Dodol tersebut akhirnya berubah menjadi Watu Dodol.

Chen Fu Zhen Ren

Chen Fu Zhen Ren adalah seorang arsitek yang memenuhi sayembara Raja Mengwi untuk membangun sebuah taman kerajaan dalam kurun waktu tertentu. Namun, hingga tiga hari dari batas waktu yang ditentukan, arsitek tersebut belum membangun apa-apa. Selama ini Raja Mengwi terus memberinya peringatan, tetapi sang arsitek terlihat acuh. Pada malam di hari ketiga sebelum batas waktu berakhir, tiba-tiba saja taman istana yang sangat indah muncul begitu saja.
Semua orang terkejut. Raja Mengwi memerintahkan untuk menangkap sang arsitek karena takut. Pada malam harinya, dua orang prajurit yang ditugaskan menjaga sang arsitek membawanya kabur ke Blambangan karena mereka menganggap sang arsitek sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Tidak seberapa jauh, pelarian mereka diketahui dan mereka dikejar hingga menyeberangi Selat Bali. Kedua prajurit tersebut bertempur mati-matian melindungi sang arsitek dan akhirnya tewas, sementara sang arsitek yang terkepung berubah menjadi batu berukuran besar dengan bentuk aneh, yaitu bagian atasnya lebih besar dari bawahnya. Penduduk setempat memakamkan kedua prajurit di puncak bukit di dekat Watu Dodol (makamnya masih sering dikunjungi hingga sekarang oleh berbagai kalangan kepercayaan dan agama), sementara batu besar itu disebut Watu Dodol dan masih dikeramatkan hingga sekarang.

Kyai Semar

Legenda ini diperkirakan bukan berasal dari masyarakat setempat (orang Using - penduduk asli Blambangan) karena mereka tidak mengenal pewayangan. Dikisahkan bahwaSemar berjualan di pantai Watu Dodol, tetapi bahan yang ia jual terguling. Berasnya yang tumpah menjadi hamparan pasir putih, sementara pikulan kayunya terlempar dan menancap di sela-sela Watu Dodol. Pikulan kayu tersebut tumbuh menjadi Pohon Kelor. Konon kayu kelor dapat menghilangkan segala ilmu kanuragan jika bersentuhan dengannya. Bekal air minum Kyai Semar yang tumpah menjadi sumber air tawar yang mengalir di bibir pantai .

Pasukan Jepang berusaha memindahkan Watu Dodol

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, pasukan Jepang pernah berupaya untuk memindahkan Watu Dodol karena mengganggu transportasi mereka. Puluhan orang dikerahkan untuk memotong Watu Dodol agar lebih mudah dipindahkan, tetapi ternyata tidak membawa hasil. Saat hendak digulingkan dengan ditarik kapal, ternyata Watu Dodol tetap bergeming, malah konon kapal yang menarik akhirnya tenggelam.

Perbaikan jalan Situbondo-Banyuwangi

Awalnya Watu Dodol terletak di sisi Timur jalan yang menghubungan Situbondo dengan Banyuwangi. Pada saat dilakukan pelebaran jalan, pemerintah setempat bermaksud memindahkan lokasi Watu Dodol yang menjadi ikon wisata daerah tersebut. Hal itu disebabkan pelebaran jalan lebih memungkinan dilakukan pada sisi timur, karena sisi barat jalan merupakan sebuah bukit. Setelah susah payah mendongkrak dan menggulingkan Watu Dodol, keesokan harinya Watu Dodol kembali tertancap di tempat semula. Setelah kejadian tersebut, Watu Dodol tidak pernah diganggu lagi. Itulah sebabnya kini Watu Dodol berada di tengah dua ruas jalan. Pemerintah setempat memperindah situs tersebut dengan menambahkan taman kecil di sekelilingnya.

Makam dua Putri

Seorang penganut aliran Kejawen yang bertapa di kawasan makam Watu Dodol pada tahun 2012 menceritakan bahwa ia memperoleh penglihatan. Dalam penglihatan itu, ia ditunjukkan bahwa sepasang makam keramat di kawasan Watu Dodol merupakan makam sepasang putri kerajaan yang diungsikan.

Pantai Rajegwesi

Pantai Rajegwesi


Pantai Rajegwesi
Rajegwesi.jpg
Potret Pengunjung Pantai Rajagwesi
Informasi tempat wisata
LokasiDesa SaronganKecamatan PesanggaranBanyuwangiJawa Timur
NegaraFlag of Indonesia.svg Indonesia
PengelolaSeksi Pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri Wilayah I Sarongan
Pantai Rajegwesi adalah sebuah pantai yang terletak di Desa SaronganKecamatan PesanggaranBanyuwangiJawa Timur.
Pantai Rajegwesi terletak dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Maka dari itu, panorama pantai ini sangat indah. Pasir pantai berwarna coklat akibat endapan lumpur yang dibawa sungai yang bermuara di pantai ini saat banjir. Pantai ini dikelilingi hutan tropis hijau yang masih asri.
Pantai Rajegwesi menjadi jujukan wisatawan lokal dan mancanegara selain tempat wisata lain di kawasan Taman Nasional Meru Betiri seperti Teluk Hijau dan Sukamade. Atraksi wisata budaya yang sering dikunjungi wisatawan berupa wisata agro dan aktivitas masyarakat berupa cara pembuatan gula jawa (nderes) mulai dari pengambilan air kelapa sampai proses pembuatan gulanya. Aktivitas nelayan dan adanya perayaan petik laut bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan. Biasanya aktifitas di pantai ini meningkat saat Hari Raya Idul Fitri. Selain tempat wisata, pantai ini juga menjadi sentra perdagangan ikan bagi desa-desa di sekitar pantai.

Tsunami

Pada 3 Juni 1994. Pantai Rajegwesi dilanda gelombang tsunami yang juga melanda sebagian pesisir selatan Jawa Timur. Gelombang ini terjadi diakibatkan gempa tektonik 7,2 skala richter yang terjadi di Palung Jawa sebelumnya. Tsunami ini membunuh lebih dari 200 orang.  Di Rajegwesi sendiri kerusakan yang terjadi sangat parah. Pemukiman di pinggir pantai rata oleh gelombang. Maka dari itu pemerintah, membangun kembali pemukiman di bukit yang dekat dengan pantai. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan jika tsunami terjadi lagi.

Pengembangan

Pada tahun 2011 Seksi Pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri Wilayah I Sarongan mendapat kegiatan Program Model Desa Konservasi (MDK). Meskipun pada awal mulanya lokasi model desa konservasi mendapat pertentangan dari beberapa pihak yang beranggapan selalu dusun rajegwesi yang mendapatkan perhatian dari pihak Taman Nasional namun setelah mendapat penjelasan maka semua pihak dapat memahami.
Dalam kegiatan pelatihan participatory rurral apraisal (PRA) terbentuk kelembagaan berupa susunan organisasi bernama Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (MER) yang terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi lainnya dengan jumlah anggota sekitar 27 orang. Hasil yang ingin di capai oleh MER yaitu ingin mengembangkan wisata bahari Rajegwesi.
Hal ini ingin dicapai dengan melaksanakan berbagai program seperti, pelatihan dan pembuatan eco-homestay, pelatihan pemandu wisata, kursus Bahasa Inggris, dan pelatihan pembuatan biogas yang berasal dari kotoran ternak.

Gallery






Wisata Hutan Mangrove Bedul

Hutan Mangrove Bedul
Banyuwangi bukan hanya menyimpan kekayaan seni dan budaya. Kabupaten yang berada di sebelah timur Pulau Jawa ini juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Salah satunya tempat wisata Mangrove Bedul yang terletak di Dusun Blok Solo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo.

Wisata Mangrove Bedul yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo menyuguhkan pemandangan hutan mangrove di wilayah daerah hilir dari DAS Stail yang membentuk rawa air payau yang sering di disebut kawasan Segara Anakan yang mempunyai panjang 17 kilometer dengan tumbuhan mangrove yang masih alami dengan ketebalan bibir pantai rata-rata 300 meter.

Nama Bedul sendiri diambil dari nama ikan gabus yang memiliki sirip di punggungnya. Ikan Bedul banyak hidup di wilayah sekitar Segoro Anakan dan sering di dijadikan lauk sehari-hari oleh masyarakat sekitar.

Menurut Suyatno, tokoh masyarakat setempat kepada Kompas.com, Kamis (20/2/2014), konsep wahana wisata alam laut dan hutan di Blok Bedul muncul sejak tahun 2003. Kemudian pada tahun 2007 Desa Sumbersari Purwoharjo dijadikan Desa Model Konservasi.

"Pada tahun 2007 juga ditandatangani perjanjian kerja sama dengan Balai Taman Nasional Alas Purwo dengan pihak Desa Sumbersari untuk mengelola Blok Bedul termasuk dengan LSM dari Jepang (JICA) (Japan International Cooporation Agency) dan BHPM (Balai Pengelolaan Hutan Mangrove) wilayah I yang ada di Bali. Mereka membeli pelatihan tentang flora dan fauna di wilayah magrove," jelasnya.

Pada kawasan blok Bedul terdapat 27 jenis mangrove serta beberapa jenis burung seperti burung imigran australia, raja udang, elang laut dan beberepa jenis bangau. Luas hutan mangrove sekitar 1.200 hektar yang membentang sejauh 18 kilometer.

"Pengunjung juga bisa menemukan satwa seperti kera, kijang, babi hutan, penyu dan biawak. Tapi yang terbanyak yang sering ditemui ya kera. Dan kami mengimbau pengunjung tidak memberikan makanan kepada binatang liar," kata SUyatno.

Perahu gondang gandung

Untuk menuju ke Bedul, pengunjung bisa mengendarai sepeda motor ataupun kendaraan roda empat dan menempuh jarak sekitar 50 kilometer ke arah Banyuwangi Selatan. Pengunjung tidak akan kesulitan karena selain jalannya yang bagus banyak papan penunjuk jalan menuju wisata alam ini. Wisata Bedul mempunyai dermaga pandang dengan panjang 225 meter.

Dengan tarif yang terjangkau pengunjung bisa mengelilingi Segara Anakan serta melanjutkan ke wilayah Pantai Selatan. Pengunjung juga bisa menuju kawasan Pantai Kere atau Pantai Cungur dengan menumpang perahu yang disiapkan di dermaga pandang.

"Perahu ini dinamakan gondang gandung, merupakan modifikasi dari dua perahu yang dijadikan satu. Dan di atasnya di beri beberapa perahu maksimal penumpang 15 orang," kata Miskar (60), salah satu pemilik perahu yang mangkal di Segara Anakan.

Miskar menjelaskan untuk pantai yang terjauh, pengunjung bisa mengunjungi Pantai Ngagelan dengan perjalanan hampir 2 jam. "Di sana ada penangkaran penyu dan pengunjung harus jalan kaki dulu untuk bisa masuk ke Pantai Ngagelan," katanya.

"Tapi kalau waktunya sedikit ya penggunjung biasanya nyeberang langsung saja ke sana," katanya sambil menunjuk daratan menuju Pantai Selatan.

"Kalau dari seberang sini kesana paling cuma 7 menitan terus jalan kaki sekitar 800 meter untuk ke pantai," sambungnya.

Syamsul Arifin (25), warga Kecamatan Srono kepada Kompas.com mengaku sering berkunjung ke wisata Bedul. "Biasanya sih akhir pekan sama teman-teman. Di sini masih alami. Pemandangan mangrove-nya seperti Sungai Amazon yang saya pernah saya lihat di televisi. Keren pokoknya. Apalagi kalau pas naik gondang gandung. Sensasinya itu lo belum pernah ditemukan di tempat lain," jelasnya.

Apalagi, menurut lelaki yang masih kuliah tersebut, dirinya biasanya juga menelusuri hutan untuk menuju Pantai Selatan. "Rasa capek menelusuri hutan akan terbayar setelah melihat laut yang luas dan juga hutan mangrove yang hijau. Pokoknya lengkap kalau datang ke sini mulai dari hutan bakau, hutan basah, sampai laut selatan yang punya ombak besar," jelasnya.

Nah kalau Anda tertarik menelusuri hutan mangrove, menikmati sensasi naik gondang gandung dan mengabadikan foto di pinggir laut selatan. Anda harus memasukkan wisata mangrove Bedul dalam dalam daftar tempat wisata yang harus dikunjungi jika ke Banyuwangi.

Gallery










Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan KecamatanPurwoharjoKabupaten BanyuwangiJawa TimurIndonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.

Keadaan fisik

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :
  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 ha.
Rata – rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun dengan temperature 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan.
Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).
Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

Keadaan biologi

Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, ± 40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon.
Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground).
Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).
Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

Sosial ekonomi dan budaya

Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

Misteri

Bertapa, semedi, sayan (gotong-royong sewaktu mendirikan rumah), bayenan serta selamatan – selamatan lain yang berkaitan dengan pencarian ketenangan bathin masih dilaksanakan. Pada hari – hari tertentu seperti 1 suro, bulan purnama, bulan mati, masyarakat datang ke kawasan TN Alas Purwountuk bersemedi. Tempat ini pun sangat terkenal dengan keangkerannya. Dahulu banyak orang yang tersesat dan dirampok serta dibunuh oleh perampok yang berdiam di Alas purwo. Disana juga banyak terdapat tempat Mahluk Halus berada .Sehingga Sampai kini tempat ini masih terkenal keangkeran-nya sebagai tempat terangker di Pulau Jawa.
Gallery










Jumat, 08 Mei 2015

Pantai Mustika

Pantai Mustika

Setelah mempromosikan Pantai Pulau Merah sebagai salah satu destinasi pariwisata, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur berencana mengembangkan Pantai Mustika yang berada dalam satu garis pantai panjang yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Pantai Pulau Merah.

Dengan pasir yang berwarna putih dan bentuk pantai seperti setengah lingkaran, pantai tersebut menawarkan ketenangan untuk para wisatawan yang datang. "Pantai ini merupakan aset pemda sehingga pengembangannya akan lebih mudah. Tahap awal Pemkab akan membangun resort dengan material alami seperti kayu ulin atau atap rumbai," jelas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, di Pantai Mustika, Kamis (15/1/2015).

Ia menjelaskan akan mengusung konsep back to nature untuk pengembangan Pantai Mustika. Rencananya kawasan di Pantai Mustika akan dibagi dua yaitu publik dan private agar semua kalangan bisa menikmati. "Kita mengakomodir kebutuhan wisatawan menengah atas, yang kerap mengutarakan ke saya ingin menikmati suasana Pulau Merah sambil duduk dan ngopi dengan suasana cozy dan tenang,” kata Bupati Anas.

Bupati menambahkan, pengembangan Pantai Mustika ini akan melengkapi Pulau Merah yang merupakan aset dari pihak Perhutani yang telah menyiapkan dana Rp 7,8 miliar untuk membangun restoran dan resort untuk melengkapi fasilitas wisata. “Nanti akan mulai dibuat dek-dek dari kayu. Konsepnya tetap alami tanpa membangun hotel baru. Desainnya sudah pernah dipresentasikan kepada kami dan sudah kami approved. Selain itu, pembicaraan masalah bagi hasil antara Perhutani dan Pemkab juga telah menemukan kesepahaman,” jelas Anas.

Bupati juga mengatakan, bukan hanya pihak Pemkab Banyuwangi saja yang akan mengembangkan pariwisata di Pantai Mustika, melainkan terbuka kesempatan bagi investor untuk masuk asalkan sejalan dengan konsepecotourism yang diusung Pemkab Banyuwangi. “Kami membuka diri untuk investor tapi khusus, bagi investor yang sejalan dengan konsep daerah. Semua persyaratan teknis sampai desain bangunan yang akan dikembangkan wajib mengikuti konsep yang ada," pungkas Bupati Anas.

Gallery









Pantai Wedi Ireng

Pantai Wedi Ireng

Mencari destinasi wisata pantai di Banyuwangi bukanlah perkara yang sulit. Kabupaten ini memiliki banyak sekali pantai cantik. Salah satu pantai yang masih belum begitu terdengar gaungnya adalah pantai Wedi Ireng. Padahal pantai ini memiliki pesona yang aduhai
Pantai Wedi Ireng berada di Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pantai Pulau Merah yang cukup terkenal di Banyuwangi. Hanya sekitar 5 km saja.
Dasar penamaan pantai Wedi Ireng adalah warna pasirnya. Dalam bahasa Jawa wedi artinya pasir sedangkan ireng artinya hitam. Warna pasir di pantai ini sekilas memang putih bersih. Namun, jika diperhatikan dengan lebih seksama dari dekat, ada campuran warna hitam yang terdapat pada pasir di pantai Wedi Ireng sehingga pantai ini dinamakan pantai Wedi Ireng
Suasana di pantai ini masih cukup sepi dan minim fasilitas. Pantai ini terhitung baru dan belum banyak diketahui keberadaanya. Jika kamu ingin mencari pantai yang antri mainstream sebagai destinasi liburan kamu di Banyuwangi, pantai Wedi Ireng ini bisa menjadi destinasi pilihan.
Selain pasirnya yang putih bercampur hitam namun bersih tersebut, air di pantai ini juga masih bening dan biru. Tak tahan rasanya untuk segera berbasah-basah ria ketika tiba di pantai ini. Pantai Wedi Ireng dikelilingi oleh pepohonan hijau yang membuat pemandanga di pantai ini menjadi semakin indah. Bebatuan karang yang banyak terdapat di pantai Wedi Ireng juga akan membuat suasana di pantai ini benar-benar menggoda
Jika kamu ingin berkunjung ke pantai Wedi Ireng sangat disarakan untuk membawa perbekalan karna di pantai tidak ada warung sama sekali. Maklum, pantai ini masih sangat sepi. Berada di pantai ini rasanya seperti berada di sebuah pantai privat saking sepinya
Akses menuju pantai Wedi Ireng memang agak sedikit rumit. Jaraknya sekitar 65km di kota Banyuwangi. Untuk menuju pantai Wedi Ireng kamu bisa berkendara mengikuti arah ke pantai Pulau Mewah. Sekitar 3km sebelum pantai Pulau Merah akan ada penunjuk arah ke Pantai Pancer. Untuk bisa ke pantai Wedi Ireng kamu bisa parkir di kawasan TPI Pancer lalu disambung dengan berjalan kaki.
Untuk bisa sampai ke pantai Wedi Ireng ini kamu bisa menyebrang menggunakan perahu nelayan setempat. Pantai Wedi Ireng juga bisa digapai melalui pantai Pulau Merah, juga menggunakan perahu nelayan.

Gallery









Diberdayakan oleh Blogger.